
BANJARBARU – Temuan mayat berjenis kelamin perempuan disebuah ruko di Jalan Panglima Batur, Banjarbaru Utara buat geger.
Kapolres Banjarbaru, AKBP Pius X Febry Aceng Loda melalui Kapolsek Banjarbaru Utara Kompol Heru Setiawan menceritakan awal mula temuan.
Kejadian terjadi pada Rabu (21/5/2025) tepatnya pukul 12.34 WITA. Temuan mayat berinisial MA (38) bermula dari kecurigaan salah seorang saksi, Epnu yang merupakan pegawai ritel modern setempat. Saat itu, Epnu sedang berada di depan ritel modern tempatnya bekerja.
“Di depan ruko, saksi mencium bau bangkai seperti bau tikus mati. Lantas, saksi mencari sumber bau bangkai tersebut,” kata Kompol Heru.
Setelah mencari hingga ke dalam ritel modern tersebut, saksi tidak menemukan adanya sumber bau tersebut.
Berinisiatif, saksi lantas mengambil tangga dan mencoba melihat ke dalam ruko sebelah melalui fentilasi ruko.
Alangkah terkejutnya Epnu, saat melihat banyak lalat serta bau busuk yang sangat menyengat.
Epnu lantas memanggil saksi 2, Rizani. Rizani sendiri merupakan rekan kerja Epnu. Rizani datang 30 menit setelah dihubungi Epnu.
“Saksi 2 kemudian mencoba untuk melihat ke dalam ruko melalui sela-sela fentilasi ruko. Terlihat sosok mayat terbaring dalam ruko tersebut dengan keadaan membusuk serta dipenuhi lalat,” tutur Kompol Heru.
Keduanya segera menghubungi ketua RT setempat hingga Bhabinkamtibmas Loktabat Utara.
Sesampainya di lokasi, Unit Inafis Polres Banjarbaru melalukan olah TKP. Diketahui, korban ditemukan di dalam sebuah ruko dengan kondisi terkunci dari dalam.
Mayat berjenis kelamin perempuan ini ditemukan dengan kondisi terlentang serta hanya mengenakan baju dalam pada bagian dada.
“Korban ditemukan dengan kondisi sudah mengalami pembusukan tingkat lanjut. Perkiraan waktu kematian lebih dari 7 hari,” sebut Heru.
Bahkan, di samping tubuh korban ditemukan berbagai macam obat-obatan hingga makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh korban.
“Keterangan anak korban, korban memang sering mengeluh pusing dan sakit pada bagian uluh hati dan perut. Korban turut mengkonsumsi obat maaf,” tutur Heru.
Dari penjelasan anak korban, Ia mengakui ibu-nya memang tinggal sendirian di dalam ruko tersebut. Komunikasi terakhir dilakukan Selasa (13/5/2025) lalu tepatnya di sore hari.
“Setelahnya korban tidak bisa lagi dihubungi,” imbuh Heru.
Ia menambahkan, di sekujur tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.
“Petugas menyimpulkan bahwa peristiwa ini merupakan peristiwa kematian biasa. Korban meninggal dunia karena sakit,” tutupnya.
Pihaknya keluarga sendiri menolak untuk dilakukan visum dan otopsi. Mereka juga menandatangi surat penolakan visum dan otopsi serta memilih untuk menerima peristiwa ini sebagai musibah kematian biasa.