
BANJARBARU – Kepolisian ungkap modif gantung diri yang dilakukan salah seorang pemuda berinisial I (21) di Banjarbaru.
I sendiri sebelumnya, ditemukan di sebuah rumah bedakan yang berlokasi di jalan Bina Putra RT 11 RW 003 Kelurahan Guntung Payung, Landasan Ulin. I ditemukan pukul 20.20 WITA, Jumat (6/6).
Kapolres Banjarbaru AKBP Pius X Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H., melalui Kapolsek Liang Anggang Kompol Imam Suryana, S.H., membenarkan adanya dugaan gantung diri yang dilakukan oleh I. Ini berdasar pada hasil indentifikasi Tim Inafis Polres Banjarbaru.
“Menganalisa dan menyimpulkan bahwa kematian korban diduga karena bunuh diri. Faktor pemicu diduga dilatarbelakangi adanya permasalahan asmara,” kata Imam, Sabtu (7/6).
Dari hasil olah TKP, korban ditemukan pertama kali dalam keadaan meninggal dunia.
Kondisi I saat terlentang dengan bagian kedua kaki tertekuk dan ditemukan adanya seutas tali nilon menempel dileher korban.
Saat kejadian, I menggunakan pakaian setelah baju Hem berwarna cream dan celana jeans biru.
“Bagian leher korban ditemukan tanda bekas jeratan tali yang menghitam. Diduga leher korban patah, bagian bibir ditemukan membiru dan bagian lidah ditemukan menggigit pada ujungnya,” jelas Kapolsek Imam.
Imam memastikan, di sekujur tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Baik itu bekas benda tumpul maupun benda tajam.
Adapun barang bukti yang ditemukan diantaranya, seutas tali nilon, sepasang sendal dan selembar kertas polio bergaris yang didalamnya dipenuhi coretan yang bertuliskan nama I dengan salah seorang wanita. Nama keduanya ini tertulis dengan sangat banyak.
Sebelumya, I ditemukan oleh salah seorang temannya Sandri (45). Mulanya Sandri mengunjungi kontrakan korban sembari mengajak dirinya pergi ke suatu hajatan.
Namun, saat Sandri mengetuk pintu tidak ada respon dari yang bersangkutan. Lima menit kemudian, keponakan Sandri dagang. Keponakan Sandri lantas mendorong pintu dan pintu kontrakan tersebut terbuka.
Mulanya, Sandri mengira korban hanya tertidur. Namun, korban tidak juga bangun.
“Saksi berinsiatif menyalakan senter. Terlihat bibir korban membiru serta tubuh kaku,” sebut Imam.
Dari keterangan keluarga korban, I sudah tiga Minggu berhenti bekerja di salah satu toko ponsel Bina Putra.
Setelahnya, I pernah satu kali membantu kaka-nya bekerja di salah satu perusahaan tempat kakanya bekerja. Namun karena seli, korban sementara menganggur.
“Korban tidak ada permasalahan keluarga, piutang maupun permusuhan dengan orang lain,” beber Imam.
I merupakan pribadi yang sangat tertutup. Terutama masalah asrama. “Korban diketahui menjalin asrama dengan seorang perempuan yang berdomisili di Jawa sejak SMA sampai sekarang,” tutupnya.
Dari kejadian ini, pihak keluarga turut menolak adanya otopsi.