07/03/2026
Sharing

 

BANJARBARU – Hamparan tanah di Jalan Seledri, Kelurahan Sungai Ulin, Banjarbaru dipenuhi dengan ribuan batang pohon jagung, yang ditanam kelompok tani (poktan) di Kelurahan Sungai Ulin.

Sebelumnya, mereka fokus menanam singkong, namun belakangan mereka beralih ke jagung, lantaran kesulitan menjual singkong. Jagung yang mereka tanam pun akhirnya dipanen pada Sabtu (28/2/2026).

“Singkong itu untuk proses penjualan itu sangat susah, apalagi skala besar. Misalkan kemarin kelompok kita itu tanam ada 12 hektar, tetapi mereka untuk proses
penjualannya sangat susah sekali,“ kata ketua poktan setempat, Nur Khalim saat diwawancarai.

Khalim menuturkan, para petani mendapatkan bantuan dari Pemprov Kalimantan Selatan (Kalsel) berupa bibit, obat-obatan, pengolahan-lahan dan sebagainya. Sehingga, mereka tertarik untuk beralih dari singkong ke jagung.

“Kalau sudah dipipil itu sekitar 10 ton per hektarnya. Jagung ini penjualannya lebih enak, harganya juga lumayan, dan untuk alat-alat pertanian dibantu sama pemerintah,” tuturnya.

Satu hal yang membuat petani mau beralih ke jagung jenis pipil adalah prospek pasar yang pasti. Walaupun dipanen sekitar 100-200 ton, tetap diterima oleh Bulog tanpa melalui perantara.

“Kemarin pernah (tanam jagung) cuma dalam skala kecil, misalkan cuma 3 hektar, 4 hektar di lokasi Sungai Ulin. Nah, kalau sekarang ini kan kita coba
sampai 6 hektar bagus, itu antusias masyarakat nih sangat luar biasa,” imbuhnya.

Keberhasilan panen jagung sendiri berkat kolaborasi antara petani, penyuluh, pemerintah daerah dan kepolisian. Kapolres Banjarbaru, AKBP Pius X Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H mengatakan, panen jagung merupakan program dari pemerintah di mana jajarannya diinstruksikan untuk merealisasikannya di daerah.

“Kita merealisasikan dengan sosialisasi, bekerja sama dengan para petani dengan dinas terkait untuk memperbanyak penanaman jagung pipil untuk stok pemerintah di Bulog,” jelasnya.

Pius memastikan, harga jagung yang dipanen tidak membuat petani gigit jari. Ia mencontohkan, jagung dengan kadar air 18 persen ke atas itu berkisaran harga Rp4.000 sampai Rp4.500 per kilogram, sedangkan kadar air 13-14 persen dipatok dengan harga Rp6.400 per kilogram.

“Jadi dengan adanya kepastian harga, dengan adanya intervensi pemerintah, kiranya para petani tidak ragu-ragu lagi untuk menanam jagung pipil. Karena sudah dijamin ada kepastian harga tidak berubah, bisa menguntungkan petani dan para pihak lain,” lugasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *